Minggu, 25 Mei 2008

Vespa Retro Klasik




Best Vehicles 2007Akhirnya, tibalah kita di penghujung tahun 2007. Tiba saatnya untuk menutup tahun dengan sesuatu yang berkesan sekaligus merencanakan apa saja yang ingin kita lakukan dan kita raih di tahun berikutnya untuk mendapat hasil terbaik sesuai keinginan kita. Bicara mendapatkan hasil terbaik, saat ini tiba waktunya juga untuk mengulas apa-apa saja kendaraan terbaik di tahun 2007 hasil pilihan pembaca Free! Magazine. Dari 3 kategori yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu Best Car, Best Scooter dan Best Big Boy Toy, masing-masing memiliki satu pemenang yang merupakan pilihanlangsung para pembaca Free! Magazine. Dan inilah pemenang yang sudah diumumkan secara resmi pada acara penobatan Free Magazine Best of 2007 yang berlangsung di Equinox pada hari Rabu (12/12) lalu.The Best Car – Honda JazzTerlahir dengan tampilan body yang manis dan sporty serta dilengkapi dengan kecanggihan teknologi yang hemat bahan bakar, kehadiran mobil imut yang satu ini cukup menyita perhatian konsumen. Dipersenjatai dengan 2 versi mesin, yaitu i-DSi untuk konsumen yang lebih suka mesin dengan teknologi terkini yang tergolong hemat BBM dan VTEC yang merupakan senjata andalan produk Honda untuk para konsumennya yang mencintai kecepatan dan keganasan mesin Honda. Hal ini tentunya dilengkapi dengan atribut keselamatan dan optional lain yang juga fungsional, seperti body kits, rear spoiler, disc brake pada keempat roda, tak lupa ABS, EBD dan Dual Airbag sebagai peranti standar (pada tipe VTEC). Kombinasi tadi tentu saja menjadikan Honda Jazz memiliki penggemar yang sangat banyak.Beragam alasan terlontar dari para pengguna setianya. “Gue sih milih Jazz pertama-tama karena bentuknya yang nggak makan tempat (kecil),” ujar Eba, pengguna Honda Jazz i-DSi berwarna hitam buatan tahun 2005 ini. “Alasan selanjutnya adalah karena irit BBM dan handling-nya enak banget,” tambahnya lagi. “Nah, yang paling asik menurut gue adalah Jazz tuh gampang dan enak banget buat didandanin dan dimodifikasi. Gaya simple aja jadinya udah keren buat gue. Contohnya mobil gue, cuma gue ganti velg pakai merek Speedline ring 16, ganti lampu belakang pake punya Honda Fit (lampu seinnya smoked berwarna merah muda), pasang lampu HID Xenon, jok kulit, dan pasang rear spoiler optional-nya aja rasanya udah cukup tuh, hehe”, ujar Eba lagi.“Kalo gue emang sengaja milih Jazz yang tipe VTEC soalnya gue sering banget bolak-balik Jakarta Bandung ngurusin bisnis resto gue disana, ada kali seminggu tiga kali,” ujar Dedy, pemilik Jazz berwarna putih buatan tahun 2007 ini. “Pas di tol Cipularangnya tuh asik banget, gue paling doyan tuh mainin transmisi matic yang di setir. Udah kaya main PS (Play Station) sob, hahaha”, kekeh pria berbadan gempal ini. “Tenaga mesinnya juga oke banget, selain itu rem dan suspensi standarnya juga udah enak banget,” tambahnya lagi. Dedy juga setuju dengan apa yang diungkapkan Eba tentang mudahnya mendandani Honda Jazz. “Buktinya sampe saat ini gue Cuma ganti velg Enkei Spider ring 17 dan ganti jok pakai merek Recaro, that’s it. Itu aja udah cukup banget buat gue,” tutup Dedy. Beberapa ungkapan tadi rasanya cukup mewakili untuk menjadikan Honda Jazz sebagai The Best Car 2007 versi Gear Up Free! Magazine.The Best Scooter – Vespa CorsaDianggap sebagai salah satu pionir skuter matic (walaupun tidak sepenuhnya automatic karena tetap harus memindahkan gigi 1 secara manual) di Indonesia karena sudah hadir disini sejak tahun 90'an awal. Namun dulu kehadirannya sempat dipandang sebelah mata, karena justru kecanggihan teknologinya itulah yang dianggap akan merepotkan pemiliknya karena dikhawatirkan akan membutuhkan perawatan extra. Kala itu edukasi tentang transmisi automatic pada motor atau skuter belum segencar saat ini, maka tak heran jika pamor Vespa Corsa tidak terlalu gemilang pada saat itu.Itu dulu, kini dalam kurun waktu satu hingga dua tahun belakangan ini, Vespa Corsa menjadi salah satu barang yang dicari dan diincar olah para pengguna skuter, terutama pencinta skuter matic yang ingin tampil vintage dan klasik. Demand yang tinggi namun tidak dibarengi dengan supply yang sebanding mengakibatkan harga Vespa Corsa meningkat drastis.“Gue menyebutnya fenomena Corsa sob, tahun 2006 gue sempet beli baru gress di showroom Piaggio yang di Fatmawati dengan harga kurang dari 7 jutaan. Tahun 2007 ada yang nawar 10 juta, terus gue jual deh. Sekarang gue rada nyesel karena susah lagi nyari barangnya, hehe,” ujar Sandy, seorang fotografer professional. “Corsa emang gokil sob, bayangin aja, dulu banget nih sekitar tahun 2000'an gitu ada yang mau jual Corsa seharga 1 juta aja orang males nengok, sekarang begitu denger ada yang mau jual dengan harga 5 juta, begitu kita cek ke yang jual, barangnya udah laku, edan ga tuh?” ujar Andre, pria yang sudah sejak lama konsisten mengoleksi dan merawat 3 buah Vespa Corsa-nya. “Dipakenya enak, tampangnya keren, ngerawatnya nggak seribet yang dipikir orang-orang, sama dandaninnya gampang sob. Apalagi kalo mau bergaya vintage, dapet banget tuh. Gue rasa itu alasan kenapa sekarang Vespa Corsa banyak dicari orang,” ujar Pandu, penunggang Vespa Corsa yang mendandani motornya dengan gaya vintage. Dulu tak dilirik, sekarang jadi favorit. Kondisi yang tepat untuk menjadikan Vespa Corsa sebagai The Best Scooter 2007 versi Gear Up Free Magazine.

Sabtu, 24 Mei 2008

POLITIK

Krisis BBM Berlanjut
Bandar Lampung – Meskipun sudah dilakukan pembatasan pembelian, kekurangan bahan bakar minyak (BBM), terutama jenis premium di berbagai daerah di Provinsi Lampung, terus berlanjut. Hanya di Kota Bandar Lampung antrean kendaraan berkurang, sementara di daerah-daerah kian parah.Di Liwa, ibu kota Lampung Barat, pembelian premium di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dibatasi 10 liter per hari untuk mobil dan 2 liter per hari untuk sepeda motor dan tidak melayani pembelian dengan jirigen. Kendati begitu, Kamis (22/5) sore, antrean kendaraan masih memanjang hingga 2 km berlapis dua. Dampak kelangkaan bensin terjadi di Pasar Liwa. Puluhan angkutan pedesaan antre BBM dan hanya beberapa yang mengangkut penumpang. Dalam situasi itu para pengojek meraup untung dengan mengangkut penumpang yang telantar. Bahkan, sejumlah mobil pribadi terpaksa diparkir karena kesulitan mendapatkan bensin. Sementara di kios eceran, premium dijual dengan harga Rp 13.000/liter dan solar Rp 10.000/liter. “Kondisi seperti ini sudah berlangsung seminggu belakangan. Entah kapan mau berakhir,” ujar Fahri, seorang pegawai di kabupaten paling barat di Provinsi Lampung itu.Demikian pula di Krui dan Fajar Bulan, dua kecamatan lainnya di Lampung Barat. Akibatnya, banyak kendaraan warga tidak bisa jalan karena tidak ada bensin. Sebagian warga membeli bensin di SPBU Fajar Bulan, tapi terkadang mereka harus kecewa karena sampai di sana bensin sudah habis. “Kalau beli di pedagang eceran Rp 20.000 seliter. Itu pun belum tentu ada,” ujar Narno.Krisis premium juga terjadi di berbagai kabupaten/kota lainnya, kecuali Bandar Lampung. Di Lampung Selatan, dari lima SPBU yang dipantau SH, kemarin, hanya dua yang masih memiliki stok premium. Itu pun pembelian dibatasi untuk mobil 22,2 liter dan 2,2 liter untuk sepeda motor. “Sudah seminggu ini pembelian premium dibatasi, sementara antrenya lama. Kalau pemerintah mau menaikkan harga BBM ya naikkan sajalah, kalau kayak gini terus nyusahin, waktu habis mengantre,” keluh Rudi, seorang karyawan swasta.Belum SebandingWakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan kenaikan harga BBM saat ini masih belum sebanding dengan besaran harga minyak dunia. Besaran subsidi yang dikeluarkan pemerintah masih sangat besar. Hal itu dikemukakan Jusuf Kalla, saat membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) IV Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Jumat (23/5) pagi.Ia menjelaskan dengan kenaikan harga BBM, beban hidup keluarga miskin akan naik paling tinggi Rp 50.000-60.000/bulan. Padahal, besaran Bantuan Langsung Tunai (BLT) mencapai Rp 100.000/bulan. “Naiknya harga BBM itu tidak seberapa. Itu masih setengah dari harga dunia. Subsidi masih besar sekali,” kata Jusuf Kalla.Ia menjelaskan naiknya harga minyak dunia yang mencapai US$ 130/barel, mengakibatkan negara harus menyubsidi BBM sebesar Rp 280 triliun. Sebanyak 80 persen dari nilai tersebut justru dinikmati oleh orang-orang mampu. “Uang itu hilang di knalpot, padahal dibayar oleh orang miskin,” kata Jusuf Kalla. (syafnijal datuk sinaro/inno jemabut)