Krisis BBM BerlanjutBandar Lampung – Meskipun sudah dilakukan pembatasan pembelian, kekurangan bahan bakar minyak (BBM), terutama jenis premium di berbagai daerah di Provinsi Lampung, terus berlanjut. Hanya di Kota Bandar Lampung antrean kendaraan berkurang, sementara di daerah-daerah kian parah.Di Liwa, ibu kota Lampung Barat, pembelian premium di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dibatasi 10 liter per hari untuk mobil dan 2 liter per hari untuk sepeda motor dan tidak melayani pembelian dengan jirigen. Kendati begitu, Kamis (22/5) sore, antrean kendaraan masih memanjang hingga 2 km berlapis dua. Dampak kelangkaan bensin terjadi di Pasar Liwa. Puluhan angkutan pedesaan antre BBM dan hanya beberapa yang mengangkut penumpang. Dalam situasi itu para pengojek meraup untung dengan mengangkut penumpang yang telantar. Bahkan, sejumlah mobil pribadi terpaksa diparkir karena kesulitan mendapatkan bensin. Sementara di kios eceran, premium dijual dengan harga Rp 13.000/liter dan solar Rp 10.000/liter. “Kondisi seperti ini sudah berlangsung seminggu belakangan. Entah kapan mau berakhir,” ujar Fahri, seorang pegawai di kabupaten paling barat di Provinsi Lampung itu.Demikian pula di Krui dan Fajar Bulan, dua kecamatan lainnya di Lampung Barat. Akibatnya, banyak kendaraan warga tidak bisa jalan karena tidak ada bensin. Sebagian warga membeli bensin di SPBU Fajar Bulan, tapi terkadang mereka harus kecewa karena sampai di sana bensin sudah habis. “Kalau beli di pedagang eceran Rp 20.000 seliter. Itu pun belum tentu ada,” ujar Narno.Krisis premium juga terjadi di berbagai kabupaten/kota lainnya, kecuali Bandar Lampung. Di Lampung Selatan, dari lima SPBU yang dipantau SH, kemarin, hanya dua yang masih memiliki stok premium. Itu pun pembelian dibatasi untuk mobil 22,2 liter dan 2,2 liter untuk sepeda motor. “Sudah seminggu ini pembelian premium dibatasi, sementara antrenya lama. Kalau pemerintah mau menaikkan harga BBM ya naikkan sajalah, kalau kayak gini terus nyusahin, waktu habis mengantre,” keluh Rudi, seorang karyawan swasta.Belum SebandingWakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan kenaikan harga BBM saat ini masih belum sebanding dengan besaran harga minyak dunia. Besaran subsidi yang dikeluarkan pemerintah masih sangat besar. Hal itu dikemukakan Jusuf Kalla, saat membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) IV Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Jumat (23/5) pagi.Ia menjelaskan dengan kenaikan harga BBM, beban hidup keluarga miskin akan naik paling tinggi Rp 50.000-60.000/bulan. Padahal, besaran Bantuan Langsung Tunai (BLT) mencapai Rp 100.000/bulan. “Naiknya harga BBM itu tidak seberapa. Itu masih setengah dari harga dunia. Subsidi masih besar sekali,” kata Jusuf Kalla.Ia menjelaskan naiknya harga minyak dunia yang mencapai US$ 130/barel, mengakibatkan negara harus menyubsidi BBM sebesar Rp 280 triliun. Sebanyak 80 persen dari nilai tersebut justru dinikmati oleh orang-orang mampu. “Uang itu hilang di knalpot, padahal dibayar oleh orang miskin,” kata Jusuf Kalla. (syafnijal datuk sinaro/inno jemabut)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar